Beberapa hari yang lalu pas mau ke kampus, aku mengisi bensin di pom Manahan terlebih dahulu. Waktu itu aku mengenakan jaket FORSISCA (Forum Silaturahmi Alumni Smara Catur). Nah, sehabis ngisi bensin jarang sekali ada petugas yang bilang ”terimakasih” selayaknya di iklan televisi. Tapi waktu itu berbeda. Beginilah percakapan singkatnya: Bapak yang ngisiin bensin : terimakasih mbak Dewi Maimunah Aku : (dengan tampang bingung) apa Pak? Bapak yang ngisiin bensin : namanya dewi maimunah kan? (sambil nunjuk nama jaketku yang bertuiskan dew_miauw) Aku : bukan Pak, Dewi Utari. Makasih Pak. Waktu itu aku berusaha untuk stay cool, calm, confident (lho?), padahal dalam hati pengen teriak “NAMA SAYA DEWI UTARI, BUKAN DEWI MAIMUNAH PAK!!!!!!”.
jadi, Minggu 28 Juni 2009 lalu, aku bersana kawan-kawan melihat Solo Batik Carnival 2009 untuk kedua kalinya.
Here’s some pictures:
Walikota Solo, Jokowi
Sayangnya kebanyakan gambarnya ga jelas, karena hanya diambil melalui kamera ponsel dan yang ngambil gambar juga ga canggih (aku, ga berani ke tengah jalan agar dapat gambar yang bagus).
That was Turles Can Fly, a very-high-recommended movie for all of you. Jadi ceritanya dulu aku pernah nonton film ini pas pinjem dari rental film gitu. Dan ternyata setelah aku tonton, ceritanya luar biasa...... trus, kemaren sabtu 20 Juni 2009 pas lagi nonton tv, ternyata ni film diputer di metro tv. Langsung aja aku nonton walaupun udah pernah. Dan akhirnya, jadi kepikiran buat bikin postingan ini dech.
Film ini menceritakan tentang kehidupan anak-anak korban perang di Irak.
Nah, ini 4 peran utamanya (according to me) :
Hengov
Satellite
Agrin
a blind 3-year-old child
Seorang remaja laki-laki yang bernama Satellite, pemimpin bagi teman-temannya dalam mencari ranjau untuk dijual kembali yang kemudian menyukai seorang remaja perempuan yang bernama Agrin. Nah Agrin ini tinggal bersama kakaknya (Hengov) dan anak kecil yang buta tersebut. Tampak di film bahwa Agrin sangat menginginkan ketiadaan anak tersebut. Di sisi lain, kakaknya sangat menyayangi anak tersebut. Di akhir cerita, Agrin akhirnya bunuh diri dengan sebelumnya menenggelamkan anak tersebut, yang sebenarnya adalah anaknya, hasil dari perkosaan tentara. Jika kamu melihat bagian info pada account facebookku, kamu akan lihat di bagian ”favourite movies: Turtles Can Fly”. Yes, I Love this movie, it gives me a lot of lessons to be learned.
Jadi, apa yang menarik untukku dari film ini: 1. Semua pemain anak-anak adalah pengungsi sungguhan 2. Film ini telah meraih banyak penghargaan di berbagai festival film dunia Awards : 14 wins & 3 nominations
2005 Berlin International Film Festival - Glass Bear - Special Mention - Peace Film Award
2005 Rotterdam International Film Festival - Audience Award 2005 Tbilisi International Film Festival - Silver Prometheus - Best Film
2004 San Sebastian Int. Film Festival - CEC Award for Best Film - Golden Seashell
2004 Sao Paulo Int. Film Festival - Audience Awarad - International Jury Award - Honorary Mention
International Theatrical Release : 17 February 2005 in Netherland 3. banyak hikmah yang dapat diambil dari film ini, banyak pelajaran dech 4. dan aku sangat tertarik dengan sosok ini Pemeran Hengov ini telah kehilangan kedua tangannya, namun dia bisa melakukan banyak hal seperti yang orang-yang-memiliki-kedua-tangannya-secara-lengkap bisa lakukan, atau bahkan tidak bisa. Dia dapat berenang, menggendong anak kecil itu, dan melakukan hal lain yang bahkan mungkin kamu pikir adalah hal yang tidak mungkin.
This boy really inspired me, to not give up after all, to try as hard as I can, to enjoy my life as possible as I can, to love and to accept myself as who I am, and of couse to always be thankfull to God. Amazing…
Untuk lebih jelasnya, tonton aja filmnya.
This movie is awesome........ Very-high-recommended Worth to watch Adorable And all the good things I can say,
Dew_dew_miauw
gambar dan sinopsis dari: http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/02/turle-can-fly.html
Waktu itu, aku ada janji dengan temanku untuk mengerjakan tugas luar kuliah di kosnya. Setelah sms-an kita sepakat untuk mengerjakan tugas itu agak siangan. Akupun berangkat dari rumah jam 11an siang, sampai di kos temen jam setengah 12an. Ternyata, temenku bilang dia habis nyuci, belum menjemurnya, belum makan, dan pula, komputer yang ada di kamarnya sedang di pakai temen kosnya sampai sekitar jam 1an. Wah, rasanya pengen marah! Lalu akhirnya aku pun pergi ke warnet. Karena pengen mencoba pakai paket 2 jam ngenet disuatu warnet, akupun bilang ke temenku kalau aku akan balik ke kosnya hampir jam 2, tapi kata temenku itu kelamaan. Akhirnya setelah ngomong2, dia pun mengiyakanku untuk ngenet 2 jam daripada menunggu jam 1 di kosnya. Waktu 2 jam di warnet berlalu dengan cepat, kemudian aku kembali ke kosnya. Dan ternyata aku harus dihadapkan pada kenyataan bahwa sampai di sana dia masih sholat, lalu makan. Huahhhhh…. rasanya udah di ubun-ubun, pengen marah! Padahal sebelumnya aku udah bilang kalau aku hanya bisa menemani sampai jam 3. Dan akupun menunggunya di kamarnya..
Menunggu..........
Kata yang sering ditulis oleh kebanyakan orang jika mengisi data tentang dirinya..
Hal yang paling dibenci : menunggu
Sudah sering aku baca seperti itu, toh aku sendiri juga pernah melakukannya.
Menunggu bisa saja menjadi hal yang menyenangkan atau hal yang sangat menyebalkan. Menyenangkan bagi seorang ibu hamil yang sedang menanti kelahiran bayinya, bagi calon pasangan pengantin yang bersiap mengucap janji, dan pada waktu penantian yang membahagiakan lainnya.
Dan akan sangat menyebalkan bagi orang yang menanti orang lain yang telah berjanji akan bertemu di suatu tempat, bagi yang menanti orang yang menjemputnya akan datang, bagi yang berharap agar rapat ataupun acara lainnya agar segera dimulai, dan “bagi-bagi” hal yang menyebalkan lainnya atau ketika menunggumu untuk menungguku.
Banyak hal yang menyebabkan “menunggu” itu terjadi. Karena memang tidak adanya kedisiplinan dalam diri manusia tersebut ataupun karena faktor eksternal di luar kuasa kita.
Jujur kuakui, aku bukanlah orang yang memiliki kedisiplinan yang tinggi, tapi aku mau belajar untuk itu. Aku sering membuat orang di sekelilingku menungguku. Dan aku benci itu. Kemudian suatu ketika, setelah mendapat masukan, membaca buku, dan kesadaran pribadi, akupun berlatih untuk menjadi orang yang lebih disiplin, lebih on time saat ada janji lebih tepatnya. Waktu itu, aku pikir jika kita sudah mencoba untuk datang tepat waktu, maka orang lain akan menghargai kita dan mereka pun akan melakukan hal yang sama. Bukankah ”treat others as you want to be treated” ? Tapi, apa yang kudapat? Mereka tetap bertahan dengan “tradisi mereka”, tukang ngaret, molor, dsb. Ketika itu, aku ada janji untuk suatu acara bersama beberapa kawan dan kakak tingkat. Waktu itu, aku datang pertama, langsung menuju ke tempat kami janjian, di kampus. Nyatanya belum ada orang, setelah menunggu, datanglah kakak tingkat tersebut. Kemudian, aku dan beliau menunggu. Penantian itu berakhir dengan sms dari kawan2ku yang menyatakan bahwa mereka tidak bisa hadir. Ya, dengan santainya mereka konfirmasi di saat terakhir. Akhirnya, aku dan kakak tingkat memutuskan untuk pulang. Aku pulang karena memang tidak ada agenda di kampus waktu itu. Saat itu aku ingin marah dan aku sungguh kecewa. Untuk apa aku jauh2 pergi ke kampus dari rumah jika akhirnya hasilnya nol. Menghabiskan bensin, tenaga. Huh..... Kalau saja aku anak kos seperti kebanyakan dari kawanku yang diundang itu, tentu bukanlah masalah besar. Atau aku yang terlalu hiperbolis?
Pernah aku berpikir, bagaimana jika kita telah membuat janji dengan seseorang lalu setelah ditunggu 1 jam dia tidak datang, aku tinggal saja orang itu. Dan hal itu hanya berhenti di pemikiranku saja. Sulit melakukannya, karena mereka temanku, sahabatku. Hingga, pada suatu saat, pada akhirnya, akupun memutuskan untuk kembali ke kebiasaan burukku. Kembali molor. Karena tepat waktupun tak berguna. Tapi coba bayangkan jika semua orang di dunia ini berpikiran sepertiku. Dunia akan kacau, jam tak lagi akan berguna sebagaimana mestinya karena semua berpikir ”being on time is useless”.
Seperti yang aku bilang sebelumnya, sampai saat ini aku masih bermasalah dengan yang namanya disiplin, on time, atau apapun itu. Aku sering terlambat masuk kuliah, setengah jam pun pernah. Tapi kenapa aku seperti orang yang tidak kapok untuk datang terlambat? (Pembelaanku) Karena most of the student in my class did late. Dosen juga ga negur gimana, dosen-dosen itu kelampau baik menurutku. Beda banget pas aku baca kalau kamu kuliah di Australia, being on time is a must. Telat 5 menit aja, mahasiswa yang mau masuk bakalan mikir banget, merasa bersalah. Dosen juga on time pastinya. See the different???
Do you know that our President, SBY, is an on time person?? A discipline one?? Yep, that’s right, I’ve read in a book that he and some person (some like cabinet minister, guardian) were the first country cameto an international meeting (with other countries of course). They were very on time, came in the room some minutes earlier. And guess what?? The room is still empty. They didn’t even see the committee. So, our President and his team have to wait until the other guest come. It’s like, uh, cool…. One room, just Indonesian.
Back to myself,
And at last, from now on, I think I have to change my bad habbit, about being on time, discipline. Okei, I know it’s not a impossible thing, I’ll learn step by step. I’ll do step by step. I promise. V
I hope, one day, people will remain me as an “on time girl”. It’s quite hard for me, I know, but I’ll try my best.
bagus ni... want to share with you aLL.. (from emaiL).
Bersyukurlah karena engkau tidak memiliki semua yang diinginkan Jika engkau memiliki segalanya apalagi yang hendak engkau cari Bersyukurlah saat engkau tidak mengetahui sesuatu Karena hal itu akan memberikan kesempatan untuk terus belajar Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang engkau hadapi Karena selama itulah engkau tumbuh dewasa Bersyukurlah atas keterbatasan yang engkau miliki Karena hal itu memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri Bersyukurlah atas setiap tantangan baru Karena hal itu akan membangun kekuatan dan karaktermu Bersyukurlah atas kesungguhan yang kamu perbuat Karena hal itu memberimu pelajaran yang berharga Bersyukurlah ketika engkau lelah dan tidak berdaya Karena berarti engkau telah membuat suatu perbedaan Adalah mudah untuk bersyukur atas hal-hal baik Kehidupan yang bermakna, adalah bagi mereka yang juga bersyukur atas kesulitan yang dihadapi Rasa syukur bisa mengubah hal negative menjadi positif Berusahalah bersyukur atas segala kesulitan yang engkau hadapi Sehingga kesulitan itu akan menjadi berkah bagimu