Selamat Idul Fitri 1431 H buat teman2 semua. Taqabalallahu minna wa minkum (instead saying “minal aidin wal faidzin” hayo artinya apa?). Mohon maaf lahir batin atas segala tingkah, prasangka, ucapan baik langsung maupun lewat dunia maya yang kurang berkenan.
Ya, mulut saya sering mengucapkan hal yang menyinggung perasaan anda,
Tulisan saya tak berkenan di hati anda,
Tingkah laku saya ternyata menyakiti anda,
Janji saya kadang tak terpenuhi,
Mata sering salah melihat,
Telinga salah mendengar,
Bercanda yang keterlaluan,
Atas segala khilaf selama ini, saya, Dewi Utari, sekali lagi mohon maaf setulusnya kepada teman-teman semua.
Whooo,I miss blogging so much... Really want to share some movies I’ve watched and others stuff but I don’t have enough time to write things down. Anyway, Ied day is 2 more day. Hmm, tomorrow exactly, since it’s already Wednesday. Haha. What do u prepare for that big day? New clothes? New shoes? New skirts? Hmm, nothing wrong with that. But I do hope that we all really mean this big day as a BIG DAY. As a day when we’re really reborn to be a better person, inside and out. As a day when we’re truly apologize to anybody and to God.
Well, I think we all are gonna miss Ramadhan so much..
Anyway, I want to put this picture in my blog. Taken when the first PSM (Praktek Simulasi Manajerial) lecture was held.
Apa kabar puasamu teman-teman? Wah, ga kerasa sudah memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Maksimalkan ibadah yukk...
Anyway, hidup di Solo makin panas aja. Apalagi pas siang hari. Wuidih.. panasnya ngepooollll..... Seperti siang kemaren. Aku pulang dari kampus sekitar jam 1. Perjalanan dari kampus ke rumah sekitar 15-30 menit. Ya itu tergantung kecepatan naik motor dan lampu merah. Nah, di teriknya langit Solo waktu itu, apalagi pas puasa, rasanya pengen banget cepet sampai ke rumah. Di tengah perjalanan, aku melihat seorang yang berjalan di pinggir jalan raya yang kulalui. Tapi orang itu tak berjalan seperti kita -yang memiliki dua kaki- berjalan. Kaki orang tersebut sebatas sampai paha. Dia berjalan menggunakan tangannya. Ya, dia berjalan menggunakan tangannya di siang hari yang sangat panas. Di panasnya aspal jalan raya. Untuk mengurangi rasa panas itu dia mengenakan sandal tersebut di tangannya. Bukan di kaki seperti kita. Sambil berjalan dia mengenakan tas ransel di punggungnya. Lelaki itu, siang itu, pemandangan yang kulihat sekilas itu, sungguh seperti sindiran kepadaku. Seperti tamparan untukku.
Malam hari seusai berbuka, aku keluar untuk fotokopi beberapa dokumen untuk melengkapi surat lamaran untuk mata kuliah PSM (Praktek Simulasi Manajerial). Pas keluar rumah sih cuaca sangat bersahabat, eh setelah nyampe di fotokopian langsung hujan deres, padahal ga bawa mantol. Alhasil sambil nunggu fotokopi usai, aku berdoa (hmm, lebay ya) agar hujan segera mereda lalu aku bisa pulang dan mengikuti sholat taraweh di masjid. Akhirnya hujan agak reda. Aku pun pulang. Pas mau nyampe rumah, hujan turun dengan deras lagi. Padahal posisinya naek motor tanpa mantol dan membawa kertas-kertas pula, yang untungnya sudah dimasukkan ke plastik. Kondisi seperti ini membuat pikiran negatif dan pengen marah. Lalu, sekali lagi, aku melihat seorang yang berjalan di pinngir jalan. Bukan lelaki tadi siang yang aku lihat. Kali ini seorang ibu paruh baya. Ibu itu penjual sate keliling yang aku lihat ketika berangkat fotokopi. Dengan punggung membawa gendongan tempat yang berisi jualannya, tangan menjinjing barang yang lain, Ibu itu tetap berjalan dengan menggunakan plastik seadanya untuk menutupi kepala dan jualannya.
Sekali lagi, pemandangan sekilas ini sungguh seperti sindiran untukku, seperti tamparan untukku.
Ya Rabb, barangkali aku kurang bersyukur atas segala nikmat-Mu hingga Kau tampakkan orang-orang tadi dihadapanku. Barangkali aku lupa bersyukur atas kelengkapan jasmani dibanding saudara-saudaraku yang lain. Bimbing hamba ya Rabb, untuk selalu menjadi hambaMu yang bersyukur atas segala nikmat, atas segala peristiwa.
Mendadak teringat quote ini:
“I was complaining that I have no shoes until I met a man who have no feet”.
Raihlah mimpimu, kejarlah citamu. Jangan pernah menyerah untuk menjadi yang terbaik. -Liem Swie King- (Pesan Liem Swie King kepada Guntur)
Film tentang mimpi yang dikemas dengan tema bulutangkis. Pemandangan yang disuguhkan dalam film ini juga bagus.. ah danaunya indah, itu danau apa ya?
Film ini mengingatkanku dengan salah satu keinginanku, yaitu bisa nonton langsung pertandingan bulutangkis (hmm, thomas atau uber cup atau yang lain gitu) secara langsung. Simple huh? Pengen ngerasain dag dig dug secara langsung. Ehm, kalau nonton di rumah juga suka ikut deg-deg an sih, tapi kayaknya bakalan lebih seru kalau nonton langsung di stadion. Pengen ikut teriak “INDONESIA” bersama penonton lain. Dan tentunya pengen lihat pemainnya secara langsung. Hahaha....