Sunday, September 9, 2012

Ied Mubarok 1433 H



Senangnya lebaran kali ini bisa barengan semuanya jadi nggak harus bingung mau lebaran hari apa dan sholat di mana. Seperti biasa, saya sholat Ied di korem depan Solo Square. 

Walau beberapa tahun terakhir masjid deket rumah juga ngadain sholat Ied sendiri.
Saya memang terbiasa sholat Ied di sini tiap tahun dan makin tahun sayangnya jamaahnya makin sedikit. Ya barangkali mereka sholat di tempat lain mengingat makin banyaknya tempat lain yang mengadakan sholat Ied.



Dari dulu pengen banget bisa ambil foto pas jamaah lagi sujud dan akhirnya tersampaikan juga tahun ini. Terimakasih buat kakak yang mau ngambilin foto (sayangnya kami sholatnya termasuk di shof depan).

Some things I notice:

#1. Jamaah yang setelah sholat langsung pulang tanpa mendengarkan khotbah Ied.
Dulu kalau khotbah Ied belum selesai belum bisa pulang karena gerbang ditutup. Sekarang bebas keluar masuk karena tidak ditutup. Memang mendengarkan khotbah ied bukanlah hal wajib, namun sangat disayangkan saja kalau selesai sholat langsung pulang tanpa mendengarkan khotbah dan mengamini doa dari khotibnya.

#2. Hal selanjutnya yaitu tentang pemakain kertas koran sebagai alas sholat.
Kertas koran kan tipis, iya sih bisa dikasih banyak. Iya juga sih masih pakai sajadah tapi kalau sekali pakai langsung dibunag juga sayang banget. Kenapa enggak bawa tikar kecil aja atau alas lain yang bisa dipakai berulang kali dan lebih tebal sih? Kecuali kalau kepepet bawa koran sih nggak apa2. Tapi lihat tumpukan sampah koran sehabis sholat ied itu rasanya... pengen nyapu hehe. –Go green-

#3. Banyaknya penjual dan pengemis di luar tempat sholat Ied.  
Dulu selesai sholat biasanya membeli bebek-bebek an yang dari lilin itu lalu ditaruh di wadah di rumah sampe lamaaa baru hancur. Sekarang mau beli gituan malu booo, paling juga beli bakpao aja. Hahaha.

*Oh iya, sedihnya yaitu kakak tertua nenek meninggal 2 hari sebelum lebaran di usia 104 tahun. Sekarang sudah nggak punya simbah dari bapak lagi T.T*

Karena sudah lama saya nggak tampil di blog ini maka kali ini mau upload beberapa foto.


On my way home with mom.


Yes, that’s a bonus bag from cosmo girl magz some years ago.

Bersama postingan ini saya mengucapkan Taqabbalallahu Minna wa Minkum . Semoga amal ibadah kita diterima Allah dan dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan. Aamiin. Masih ada waktu buat puasa syawal, semangat buat yang belum!

Tuesday, August 7, 2012

No Idea


I miss my “me time”.
I miss blogging as well.

Meanwhile, I share some pics taken in 2009 when at college.




P.s: Sorry for this random post. And Happy Ramadhan !!

Saturday, July 14, 2012

A Day in Purworejo, Central Java

Kirain baru 2 minggu nggak update blog, ternyata udah sebulan lebih -_-
Jadi sekarang mau sharing cerita pas maen ke Purworejo. Setelah rencana awal sempat tertunda, akhirnya tanggal 9 Juli bisa maen ke kota di Jawa Tengah lainnya. Dan rencananya baru fix h-1. Ckckck.
Menurut rencana, kami bakalan naik kereta api paling pagi yaitu jam 5.25. Ya Allah, sepagi itu kudu udah siap di stasiun kayak apa ya? Mana waktu itu kalau pagi lagi dingin-dinginnya.

Sabtu, 9 Juli 2012

Saya sampai di stasiun Solo Balapan pukul 5.20 dan saya tak melihat satu temanpun. Panik mneyerang. Mau beli tiket tapi kuurungkan. Gimana kalau saya beli tiket trus ternyata teman-teman saya pada ketinggalan kereta? Saya sendirian donk.
Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu teman-teman saja yang entah siapa saja yang pasti ikut. Dan setelah beberapa menit terlihatlah Riesa dengan backpack  dan tas selempangnya. Setelah saling sapa trus kita beli tiket untuk dua orang. Dan alhamdulillah tulisan di kaca kereta berangkat pukul 5.30 . Yak masih ada beberapa menit lah (kalau nggak molor).
Setelah masuk peron dapat kabar kalau Hafid datang, akhirnya keluar lagi beli tiket lagi untuk 3 orang. Ternyata ada Agus dan Rendi juga yang akhirnya ikut tapi masih di parkiran motor.
Semua tiket ditangan, saya dan Riesa memutuskan masuk ke kereta duluan. Karena yang laki-laki masih belum nampak juga. Nggak lucu kan kalau ketinggalan kereta?
Di kereta Prameks  ini nyobain yang namanya gerbong wanita. Gerbong ini memang dikhususkan untuk penumpang wanita saja dan biasanya gerbongnya paling ujung. Denger-denger walaupun namanya gerbong wanita kadang ada penumpang pria yang ikutan duduk di situ. Tapi kemaren pas berangkat dan pulang nggak ada tuh. Yang ada mereka masuk karena nggak tahu lalu diusir secara halus entah sama petugasnya atau penumpang yang lain.
Eh tapi si sini tetep ada pria lho, yaitu petugas KAnya :D
Dan dikereta ini rasanya rekor baru bepergian dengan jam terpagi, naek kereta paling lama. Biasanya naek kereta cuma sampe Jogja aja.
Setelah berhenti di 5 stasiun, sampailah perjalanan 2 jam kita di stasiun Kutoarjo.
Di sana sudah dijemput Rizal sebagai tuan rumah dan langsung cus ke rumahnya yang nggak nyampe 5 menit perjalanan dari staisun.
Eh ya, seingat saya kereta berangkat jam setengah 6 lebih dikit.



Salah satu suguhan pertama sebelum sarapan: Gempol plorot
Setelah sarapan langsung pergi ke Pantai Ketawang yang berkisar 15 menit dari rumah Rizal. Jalan pas mau sampai pantai ini melewati sawah, pohon-pohon, lalu di parkirannya rumput lumayan luas



Pantainya sepi dengan ombak yang gede. Serasa milik pribadi. Eh ada 2 anak kecil yang lagi maenan juga dink. Setelah itu ada beberapa anak SMA yang juga datang. Tapi tetep sepi dan nyaman buat menyepi kok (lho?).



Anginnya gede+ ombak besar. Kalau maen mending di pingggirannya aja deh.



Puas dengerin suara ombak, maen nulis-nulis di pasir pantai (so old fashion), foto-foto, perjalananpun dilanjukan ke  dawet item sekalian menjemput Lestyo yang baru bisa nyusul.
Dawet item ini disuguhkan di mangkok kecil yang terisi penuh. Rasanya manis tentunya. Seger. Dan pernyataan bodoh saya waktu itu adalah
“Kok dawetnya item ya? Biasanya kan ijo”...  dan setelah itu baru sadar kalau ternyata dari namanya aja dawet item -_-







Setelah yang seger-seger lanjut ke Masjid Agung Purworejo buat sholat.



















Next, mampir ke tempat makan ini (take a look at the place’s name) yang menunya siomay sama batagor.



Setelah puas maen dan kenyang saatnya pulang ke rumah Rizal lagi hahaha. Di sana dikasih tour singkat tentang pembuatan krupuk secara si Rizal punya pabrik krupuk Berkah di belakang rumahnya. Dari masukin bahan mentahnya sampai proses jadinya.



Krupuknya beneran enak lho *bukan promo
Dan setelah capek kami leyeh-leyeh alias santai ria di rumah Rizal sedangkan si empunya rumah nganterin ortunya pergi. Pas Rizal udah pulang saatnya kami dianter ke stasiun untuk pulang naek kereta terakhir. Perjalanan pulang tetep naik di gerbong wanita bareng Novi sambil pada merem sendiri-sendiri melepas lelah.



No man allowed

Pas di sana kok  jadi keinget Bengkulu ya. Jalanannya masih belum terlalu ramai dan banyak tugu di persimpangan jalan.
Anw, seneng akhirnya bisa maen bareng lagi sebelum tambah sulit ketemunya. Many thanks to Rizal and his family for the warm welcome. Dianter ke tempat wisata, dikasih makan pula hehe. Buat teman-teman yang sudah ikut, terima kasih juga hoho.

p.s: header aku baru donk, hasil foto di Pantai Ketawang :D

Thursday, May 24, 2012

No One’s Perfect - Hirotada Ototake


No One’s Perfect - Hirotada Ototake

Ototake terlahir dengan kondisi berbeda, tanpa tangan dan kaki. Pada awalnya sang ayah lebih memilih menyembunyikan anaknya dari istrinya karena takut sang istri akan kaget. Namun ternyata ketika istrinya melihat anaknya dia nampak bahagia. Tak ada raut kecewa itu.

Di buku ini diceritakan bagaimana dia menjalani hari-harinya sejak kecil hingga dewasa. Dari gagaimana sulitnya mencari sekolah yang mau menerimanya hingga ketika menjadi mahasiswa yang pada kahirnya dapat berbicara di depan umum mengispirasi lainnya. Bahkan pergi ke Amerika.

Ketika SD ada satu guru yang tidak mau memanjakan Otatake, yaitu Sensei Takagi. Sensei Takagi berpikir bahwa suatu saat akan ada waktu dimana tak ada orang yang menolong Ototake. Sehingga Sensei membuat peraturan dengan tidak membedakan Otatake dengan yang lainnya, misalnya dengan mengambil peralatan yang diperlukan ke lokernya sendiri yang berarti dia akan kembali ke kelas paling lambat. Bahkan ketika di sekolahpun temannya tak diperbolehkan membantu mendorong kursi rodanya. Namun ketika ada hal lain yang Ototake benar-benar tidak dapat melakukannya sendiri, temannya boleh menolong.

Walaupun terlahir dengan kondisi berbeda namun Ototake dapat membuktikan bahwa dia bisa melakukan hal lain yg dilakukan anak lain seperti berolahraga basket, renang, hingga masuk Universitas.

Hal lain yang menarik perhatian adalah penerimaan kedua orang tua Ototake terhadap keadaan dirinya. Mereka membesarkan Ototake dengan penuh kasih sayang seperti yang dilakukan orang tua lain. Ketika mendapat sekolah yang jauh dari rumah pun mereka rela pindah rumah ke tempat yang lebih dekat dengan sekolah Ototake. Mengingat perjuangan mencari sekolah yang mau menerima Ototake bukanlah hal mudah.

Membaca buku ini, saya menjadi lebih tahu tentang sudut pandang Ototake sebagai orang yang memiliki kekurangan. Dia tidak suka jika ada yang memandang seperti mengasihaninya. Dia ingin menunjukkan bahwa dia juga bisa lho melakukan apa yang orang lain lakukan. Dan dia ingin lebih banyak lagi fasilitas yang mendukung bagi pengguna kursi roda. Barangkali hal-hal seperti itu jugalah yang ada di benak orang dengan kebutuhan khusus lainnya.