Saturday, July 14, 2012

A Day in Purworejo, Central Java

Kirain baru 2 minggu nggak update blog, ternyata udah sebulan lebih -_-
Jadi sekarang mau sharing cerita pas maen ke Purworejo. Setelah rencana awal sempat tertunda, akhirnya tanggal 9 Juli bisa maen ke kota di Jawa Tengah lainnya. Dan rencananya baru fix h-1. Ckckck.
Menurut rencana, kami bakalan naik kereta api paling pagi yaitu jam 5.25. Ya Allah, sepagi itu kudu udah siap di stasiun kayak apa ya? Mana waktu itu kalau pagi lagi dingin-dinginnya.

Sabtu, 9 Juli 2012

Saya sampai di stasiun Solo Balapan pukul 5.20 dan saya tak melihat satu temanpun. Panik mneyerang. Mau beli tiket tapi kuurungkan. Gimana kalau saya beli tiket trus ternyata teman-teman saya pada ketinggalan kereta? Saya sendirian donk.
Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu teman-teman saja yang entah siapa saja yang pasti ikut. Dan setelah beberapa menit terlihatlah Riesa dengan backpack  dan tas selempangnya. Setelah saling sapa trus kita beli tiket untuk dua orang. Dan alhamdulillah tulisan di kaca kereta berangkat pukul 5.30 . Yak masih ada beberapa menit lah (kalau nggak molor).
Setelah masuk peron dapat kabar kalau Hafid datang, akhirnya keluar lagi beli tiket lagi untuk 3 orang. Ternyata ada Agus dan Rendi juga yang akhirnya ikut tapi masih di parkiran motor.
Semua tiket ditangan, saya dan Riesa memutuskan masuk ke kereta duluan. Karena yang laki-laki masih belum nampak juga. Nggak lucu kan kalau ketinggalan kereta?
Di kereta Prameks  ini nyobain yang namanya gerbong wanita. Gerbong ini memang dikhususkan untuk penumpang wanita saja dan biasanya gerbongnya paling ujung. Denger-denger walaupun namanya gerbong wanita kadang ada penumpang pria yang ikutan duduk di situ. Tapi kemaren pas berangkat dan pulang nggak ada tuh. Yang ada mereka masuk karena nggak tahu lalu diusir secara halus entah sama petugasnya atau penumpang yang lain.
Eh tapi si sini tetep ada pria lho, yaitu petugas KAnya :D
Dan dikereta ini rasanya rekor baru bepergian dengan jam terpagi, naek kereta paling lama. Biasanya naek kereta cuma sampe Jogja aja.
Setelah berhenti di 5 stasiun, sampailah perjalanan 2 jam kita di stasiun Kutoarjo.
Di sana sudah dijemput Rizal sebagai tuan rumah dan langsung cus ke rumahnya yang nggak nyampe 5 menit perjalanan dari staisun.
Eh ya, seingat saya kereta berangkat jam setengah 6 lebih dikit.



Salah satu suguhan pertama sebelum sarapan: Gempol plorot
Setelah sarapan langsung pergi ke Pantai Ketawang yang berkisar 15 menit dari rumah Rizal. Jalan pas mau sampai pantai ini melewati sawah, pohon-pohon, lalu di parkirannya rumput lumayan luas



Pantainya sepi dengan ombak yang gede. Serasa milik pribadi. Eh ada 2 anak kecil yang lagi maenan juga dink. Setelah itu ada beberapa anak SMA yang juga datang. Tapi tetep sepi dan nyaman buat menyepi kok (lho?).



Anginnya gede+ ombak besar. Kalau maen mending di pingggirannya aja deh.



Puas dengerin suara ombak, maen nulis-nulis di pasir pantai (so old fashion), foto-foto, perjalananpun dilanjukan ke  dawet item sekalian menjemput Lestyo yang baru bisa nyusul.
Dawet item ini disuguhkan di mangkok kecil yang terisi penuh. Rasanya manis tentunya. Seger. Dan pernyataan bodoh saya waktu itu adalah
“Kok dawetnya item ya? Biasanya kan ijo”...  dan setelah itu baru sadar kalau ternyata dari namanya aja dawet item -_-







Setelah yang seger-seger lanjut ke Masjid Agung Purworejo buat sholat.



















Next, mampir ke tempat makan ini (take a look at the place’s name) yang menunya siomay sama batagor.



Setelah puas maen dan kenyang saatnya pulang ke rumah Rizal lagi hahaha. Di sana dikasih tour singkat tentang pembuatan krupuk secara si Rizal punya pabrik krupuk Berkah di belakang rumahnya. Dari masukin bahan mentahnya sampai proses jadinya.



Krupuknya beneran enak lho *bukan promo
Dan setelah capek kami leyeh-leyeh alias santai ria di rumah Rizal sedangkan si empunya rumah nganterin ortunya pergi. Pas Rizal udah pulang saatnya kami dianter ke stasiun untuk pulang naek kereta terakhir. Perjalanan pulang tetep naik di gerbong wanita bareng Novi sambil pada merem sendiri-sendiri melepas lelah.



No man allowed

Pas di sana kok  jadi keinget Bengkulu ya. Jalanannya masih belum terlalu ramai dan banyak tugu di persimpangan jalan.
Anw, seneng akhirnya bisa maen bareng lagi sebelum tambah sulit ketemunya. Many thanks to Rizal and his family for the warm welcome. Dianter ke tempat wisata, dikasih makan pula hehe. Buat teman-teman yang sudah ikut, terima kasih juga hoho.

p.s: header aku baru donk, hasil foto di Pantai Ketawang :D

2 comments:

Annisa mulia said...

Samaaaa :D Kalo ke pantai masih suka nulis-nulis di pasir juga..

dew_miauw said...

Belum ke pantai kalau belum nulis2 ya :D