Tuesday, August 7, 2012

No Idea


I miss my “me time”.
I miss blogging as well.

Meanwhile, I share some pics taken in 2009 when at college.




P.s: Sorry for this random post. And Happy Ramadhan !!

Saturday, July 14, 2012

A Day in Purworejo, Central Java

Kirain baru 2 minggu nggak update blog, ternyata udah sebulan lebih -_-
Jadi sekarang mau sharing cerita pas maen ke Purworejo. Setelah rencana awal sempat tertunda, akhirnya tanggal 9 Juli bisa maen ke kota di Jawa Tengah lainnya. Dan rencananya baru fix h-1. Ckckck.
Menurut rencana, kami bakalan naik kereta api paling pagi yaitu jam 5.25. Ya Allah, sepagi itu kudu udah siap di stasiun kayak apa ya? Mana waktu itu kalau pagi lagi dingin-dinginnya.

Sabtu, 9 Juli 2012

Saya sampai di stasiun Solo Balapan pukul 5.20 dan saya tak melihat satu temanpun. Panik mneyerang. Mau beli tiket tapi kuurungkan. Gimana kalau saya beli tiket trus ternyata teman-teman saya pada ketinggalan kereta? Saya sendirian donk.
Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu teman-teman saja yang entah siapa saja yang pasti ikut. Dan setelah beberapa menit terlihatlah Riesa dengan backpack  dan tas selempangnya. Setelah saling sapa trus kita beli tiket untuk dua orang. Dan alhamdulillah tulisan di kaca kereta berangkat pukul 5.30 . Yak masih ada beberapa menit lah (kalau nggak molor).
Setelah masuk peron dapat kabar kalau Hafid datang, akhirnya keluar lagi beli tiket lagi untuk 3 orang. Ternyata ada Agus dan Rendi juga yang akhirnya ikut tapi masih di parkiran motor.
Semua tiket ditangan, saya dan Riesa memutuskan masuk ke kereta duluan. Karena yang laki-laki masih belum nampak juga. Nggak lucu kan kalau ketinggalan kereta?
Di kereta Prameks  ini nyobain yang namanya gerbong wanita. Gerbong ini memang dikhususkan untuk penumpang wanita saja dan biasanya gerbongnya paling ujung. Denger-denger walaupun namanya gerbong wanita kadang ada penumpang pria yang ikutan duduk di situ. Tapi kemaren pas berangkat dan pulang nggak ada tuh. Yang ada mereka masuk karena nggak tahu lalu diusir secara halus entah sama petugasnya atau penumpang yang lain.
Eh tapi si sini tetep ada pria lho, yaitu petugas KAnya :D
Dan dikereta ini rasanya rekor baru bepergian dengan jam terpagi, naek kereta paling lama. Biasanya naek kereta cuma sampe Jogja aja.
Setelah berhenti di 5 stasiun, sampailah perjalanan 2 jam kita di stasiun Kutoarjo.
Di sana sudah dijemput Rizal sebagai tuan rumah dan langsung cus ke rumahnya yang nggak nyampe 5 menit perjalanan dari staisun.
Eh ya, seingat saya kereta berangkat jam setengah 6 lebih dikit.



Salah satu suguhan pertama sebelum sarapan: Gempol plorot
Setelah sarapan langsung pergi ke Pantai Ketawang yang berkisar 15 menit dari rumah Rizal. Jalan pas mau sampai pantai ini melewati sawah, pohon-pohon, lalu di parkirannya rumput lumayan luas



Pantainya sepi dengan ombak yang gede. Serasa milik pribadi. Eh ada 2 anak kecil yang lagi maenan juga dink. Setelah itu ada beberapa anak SMA yang juga datang. Tapi tetep sepi dan nyaman buat menyepi kok (lho?).



Anginnya gede+ ombak besar. Kalau maen mending di pingggirannya aja deh.



Puas dengerin suara ombak, maen nulis-nulis di pasir pantai (so old fashion), foto-foto, perjalananpun dilanjukan ke  dawet item sekalian menjemput Lestyo yang baru bisa nyusul.
Dawet item ini disuguhkan di mangkok kecil yang terisi penuh. Rasanya manis tentunya. Seger. Dan pernyataan bodoh saya waktu itu adalah
“Kok dawetnya item ya? Biasanya kan ijo”...  dan setelah itu baru sadar kalau ternyata dari namanya aja dawet item -_-







Setelah yang seger-seger lanjut ke Masjid Agung Purworejo buat sholat.



















Next, mampir ke tempat makan ini (take a look at the place’s name) yang menunya siomay sama batagor.



Setelah puas maen dan kenyang saatnya pulang ke rumah Rizal lagi hahaha. Di sana dikasih tour singkat tentang pembuatan krupuk secara si Rizal punya pabrik krupuk Berkah di belakang rumahnya. Dari masukin bahan mentahnya sampai proses jadinya.



Krupuknya beneran enak lho *bukan promo
Dan setelah capek kami leyeh-leyeh alias santai ria di rumah Rizal sedangkan si empunya rumah nganterin ortunya pergi. Pas Rizal udah pulang saatnya kami dianter ke stasiun untuk pulang naek kereta terakhir. Perjalanan pulang tetep naik di gerbong wanita bareng Novi sambil pada merem sendiri-sendiri melepas lelah.



No man allowed

Pas di sana kok  jadi keinget Bengkulu ya. Jalanannya masih belum terlalu ramai dan banyak tugu di persimpangan jalan.
Anw, seneng akhirnya bisa maen bareng lagi sebelum tambah sulit ketemunya. Many thanks to Rizal and his family for the warm welcome. Dianter ke tempat wisata, dikasih makan pula hehe. Buat teman-teman yang sudah ikut, terima kasih juga hoho.

p.s: header aku baru donk, hasil foto di Pantai Ketawang :D

Thursday, May 24, 2012

No One’s Perfect - Hirotada Ototake


No One’s Perfect - Hirotada Ototake

Ototake terlahir dengan kondisi berbeda, tanpa tangan dan kaki. Pada awalnya sang ayah lebih memilih menyembunyikan anaknya dari istrinya karena takut sang istri akan kaget. Namun ternyata ketika istrinya melihat anaknya dia nampak bahagia. Tak ada raut kecewa itu.

Di buku ini diceritakan bagaimana dia menjalani hari-harinya sejak kecil hingga dewasa. Dari gagaimana sulitnya mencari sekolah yang mau menerimanya hingga ketika menjadi mahasiswa yang pada kahirnya dapat berbicara di depan umum mengispirasi lainnya. Bahkan pergi ke Amerika.

Ketika SD ada satu guru yang tidak mau memanjakan Otatake, yaitu Sensei Takagi. Sensei Takagi berpikir bahwa suatu saat akan ada waktu dimana tak ada orang yang menolong Ototake. Sehingga Sensei membuat peraturan dengan tidak membedakan Otatake dengan yang lainnya, misalnya dengan mengambil peralatan yang diperlukan ke lokernya sendiri yang berarti dia akan kembali ke kelas paling lambat. Bahkan ketika di sekolahpun temannya tak diperbolehkan membantu mendorong kursi rodanya. Namun ketika ada hal lain yang Ototake benar-benar tidak dapat melakukannya sendiri, temannya boleh menolong.

Walaupun terlahir dengan kondisi berbeda namun Ototake dapat membuktikan bahwa dia bisa melakukan hal lain yg dilakukan anak lain seperti berolahraga basket, renang, hingga masuk Universitas.

Hal lain yang menarik perhatian adalah penerimaan kedua orang tua Ototake terhadap keadaan dirinya. Mereka membesarkan Ototake dengan penuh kasih sayang seperti yang dilakukan orang tua lain. Ketika mendapat sekolah yang jauh dari rumah pun mereka rela pindah rumah ke tempat yang lebih dekat dengan sekolah Ototake. Mengingat perjuangan mencari sekolah yang mau menerima Ototake bukanlah hal mudah.

Membaca buku ini, saya menjadi lebih tahu tentang sudut pandang Ototake sebagai orang yang memiliki kekurangan. Dia tidak suka jika ada yang memandang seperti mengasihaninya. Dia ingin menunjukkan bahwa dia juga bisa lho melakukan apa yang orang lain lakukan. Dan dia ingin lebih banyak lagi fasilitas yang mendukung bagi pengguna kursi roda. Barangkali hal-hal seperti itu jugalah yang ada di benak orang dengan kebutuhan khusus lainnya.

Saturday, May 12, 2012

Islamic Thinking


Selayaknya manusia yang tempatnya khilaf dan alpha, kita butuh pengingat untuk terus memperbaiki diri. Entah lewat kajian langsung atau dunia maya. Di twitter sendiri banyak akun-akun yang bagus untuk diikuti,  salah satunya @IslamicThinking.
Akun twitter milik warga Inggris ini sering mengupdate twitternya dengan story time,  pernah juga ada kuis di mana kita seperti dites akan pengetahuan kita sendiri tentang agama kita, dan akhir-akhir ini sering bikin trending topic dengan tema seputar menjadi muslim itu sendiri. Nah akun ini juga punya web yang bisa dikunjungi di http://www.islamicthinking.info/.
Allahumma shalli ala muhammad
Indeed ^^
Its good to know there’re broters and sister in Islam out there, in west country who tell the world what Islam really is. What about us?
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mengajak kepada suatu petunjuk, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia memperoleh dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka."

All pictures taken from http://www.islamicthinking.info/.



Wednesday, March 28, 2012

Negeri 5 Menara

Mendengar judul di atas tentu kita ingat akan novelnya yang best seller. Film ini memang merupakan adaptasi dari novel Negeri 5 Menara karya Fuadi. Saya sih belum selesai baca novelnya sampai sekarang, tapi kalau nonton filmnya (3 minggu lalu) yang cuma 2 jam sih selesai. :D

Alif dan Randai merupakan sahabat ketika bersekolah di padang. Untuk melanjutkan sekolah di tingkat SMA mereka ingin bersekolah di sekolah negeri. Namun, orang tua Alif menginginkan anaknya melanjutkan pendidikannya di Pondok Madani, Jawa Timur. Akhirnya Alif pun mengikuti kata orang tuanya untuk bersekolah di Pondok Madani. Sedangkan Randai melanjutkan sekolahnya di sekolah negeri Bandung

Di pondok, Alif bertemu dengan teman-temannnya dari berbagai daerah di Indonesia. Ada Baso yang alim dan pandai dari Sulawesi, Raja dari Medan , Atang dari Bandung , Said dari Surabaya , dan Dulmajid dari Sumenep. Mereka selalu bersama-sama, dan karena seringnya berkumpul di bawah menara ada yang menjuluki mereka shohibul menara.

Tetapi perjalanan mereka mencari ilmu tak semudah yang diharapkan. Baso yang cerdas pada akhirnya harus berhenti dari pondok untuk menemani neneknya yang sakit. Melihat hal itu, dan karena pondok bukanlah pilihan Alif dia memutuskan untuk berhenti dari pondok. Namun akhirnya dia memilih untuk bergabung kembali bersama teman-temannya di Pondok.

Pada akhir film diceritakan ketika mereka dewasa sudah menjadi orang sukses. Alif menjadi wartawan seperti yang diinginkannya. Dan mereka bertemu di Eropa beberapa tahun kemudian.

Yang terkenal dari Negeri Lima Menara adalah kata-kata “Man Jadda wa Jadda” yang artinya barangsiapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Ketika awal mulai pelajaran, Ustadz Salman memperkenalkan kata-kata itu dengan membelah kayu menggunakan semacam golok. Pada awalnya memang nggak langsung terbelah, tapi dengan usaha terus akhirnya kayu terpotong juga. Dari situ ustadz meneriakkan man jadda wa jadda yang satu per satu ditirukan oleh santrinya dan menggema dengan keras.

Adegan di atas menurut saya salah satu adegan terbaik dari film itu.

Dari film ini saya mendapat gambaran tentang kehidupan di pondok. Ternyata nggak semua yang mendaftar diterima, dan waktu belajar pun lebih lama setahun dari sekolah biasa. Di samping itu kedisiplinan di pondok juga luar biasa ketatnya.

Adegan lain yang memorable ya ketika si Baso harus pulang ke Sulawesi. Orang pintar namun karena suatu hal (mengurus neneknya) nggak bisa melanjutkan sekolahnya. Huhuhu

Yang paling saya suka sih adegan-adegan awal ketika di sumatera barat, dari bahasanya, pemandangannya, dan rumah yang lantainya dari kayu semua itu mengingatkan dengan rumah nenek saya di padang yang kini telah kosong tanpa penghuni. *Semoga dalam 5 tahun kedepan saya bisa menginjakkan kaki lagi ke sana.*

Sayangnya saya masih merasa ada yang kurang di film ini yaitu keseluruhan penggambaran cerita di film sehingga maksud dari film kurang tersampaikan. Gaung man jadda wa jadda juga kurang banyak digambarkan di film, tiba-tiba aja mereka udah sukses entah gimana caranya habis pertunjukkan di pondok itu.

Tapi secara keseluruhan film ini much way better daripada film-film tanpa “isi” lainnya.